Senin, 15 September 2014

,

Warga Tanggapi Positif Fly Over Air Hitam

Kota Samarinda  


FLY over atau lazimnya disebut jalan layang merupakan hal baru di kota Samarinda. Tak sedikit warga yang belum tahu bahwa di Samarinda akan dibangun sebuah jalan layang untuk memecah kemacetan yang kerap mengular di Simpang Empat Air Hitam.

Oleh karena itu, pada tahun anggaran 2014 ini pemerintah telah menetapkan rencana pembangunan fly over Air Hitam sehingga arus lalu lintas dapat lebih lancar serta.

Walikota Samarinda Syaharie Jaang menyampaikan kawasan Air Hitam memang langganan macet setiap pagi dan sore hari. Karena itu, solusi yang ditawarkan adalah membangun fly over agar titik macet dapat berkurang.

“Pemkot Samarinda terus bergerak. Ide-ide pengembangan infrastruktur terus dilakukan supaya mempermudah akses lalu lintas. Kenyamanan dan keselamatan lalu lintas terjaga. Sekaligus hemat energy karena dengan terurainya simpul macet pada titik simpang empat Air Hitam, tentu dengan jarak tempuh yang sama, konsumsi energi berupa BBM akan berkurang,” jelasnya.

Berbagai tanggapan positif dari kalangan masyarakat pun mengalir, terutama warga yang dalam aktivitas hariannya melewati kawasan Air Hitam. Seperti yang disampaikan salah satu warga Kota Samarinda Junaid Purwanto yang mengharapkan selesainya fly over ini akan membuat arus lalu lintas lebih lancar.

“Semoga tidak molor jangka waktu penyelesaiannya” ucapnya.

Hal yang sama diaminkan Astri Paramita Sosang yang mengatakan masyarakat kota Samarinda perlu solusi alternative kemacetan di Samarinda yang semakin parah. Terlebih jumlah kendaraan yang semakin bertambah setiap harinya. Karena itu, fly over akan menjadi solusi yang baik.

Jaang berharap masyarakat dapat mendukung pembangunan fly over pertama di Samarinda ini. Kedepan rencana pembangunan fly over akan tetap dilakukan pada titik rawan macet lainnya.

“Sekarang kita fokus pelebaran jalan dilakukan lebih awal agar tidak menambah kemacetan saat pekerjaan berlangsung. Setelah pelebaran selesai, barulah dilakukan pemancangan tiang, dan tahap selanjutnya. Karena itu, dukungan dari seluruh elemen masyarakat sangat kita harapkan agar fly over Air Hitam dapat terselesaikan tepat pada waktunya,” pungkas Wali Kota.

smbr:samarindakota.go.id

@KotaSamarinda
,

Wali Kota Lantik 133 Kepsek

Kota Samarinda  






SAMARINDA--Demi menciptakan terobosan baru kearah yang lebih baik dalam bidang pendidikan, Walikota Samarinda H Syaharie Jaang merasa perlu mengadakan pelantikan dan pengukuhan kepada 133  Kepala sekolah di lingkungan Pemerintah Kota Samarinda terdiri dari 50 Kepala Sekolah SD, 83 Kepala sekolah SMP, SMA dan SMK   di rumah jabatan Wali Kota, Selasa (09/09).

Terbosan ini penting, mengingat, banyaknya keluhan masyarakat dengan pelayanan yang diberikan sekolah, antara lain beban pendidikan yang berat, serta  banyaknya pungutan padahal sudah digratiskan. Hal ini menjadi tantangan yang harus dijawab bersama.  

“Mutasi maupun promosi merupakan hal wajar di lingkungan Pemkot Samarinda, jangan anggap itu sebagai hukuman, tetapi  sebagai tugas tambahan, kepada kepala sekolah yang diambil sumpahnya atau dilantik diharapkan mampu  memahami tugas, fungsi, tanggung jawab  terhadap tugas yang diemban, disiplin juga  memiliki kedudukan penting dalam keberhasilan kerja,” ungkap Jaang.

Ditegaskannya, masyarakat sekarang begitu kritis, jadi jangan sampai masyarakat sudah protes barulah akan membenahi sistem. “Diharapkan saling kerjasama dalam bidang pendidikan. Tidak mungkin saya bisa tahu apa yang terjadi dalam lingkungan sekolah tanpa informasi dan bantuan dari pihak dalam,” tambahnya.

Jaang berpesan kepada kepala sekolah yang dilantik agar memperhatikan lingkungan sekolah yang bersih dan sehat, percepatan pertanggungjawaban dana BOSDA dan BOSNAS, karena kalau terlambat akan menghambat proses pencairan triwulan berikutnya. “Mengimplementasikan dan menyampaikan kepada guru tentang proaktif tentang melengkapi syarat, juga dapat mengerti tentang keterlambatan pencairan dana sertifikasi, tahun ini SK terbit dai Jakarta 2 tahap, untuk SK dan dana tahap 2 saat ini belum diterima. Tidak melakukan jual beli buku dan Lembar Kerja Siswa (LKS), begitu juga dengan pungutan liar jika ada yang sangat prioritas harus seijin Wali Kota melalui Disdik Kota,” pungkasnya.

 smbr:samarindakota.go.id
@KotaSamarinda
,

Sejarah Kota Samarinda

Kota Samarinda



Pada tahun 1668, rombongan orang-orang Bugis Wajo yang dipimpin La Mohang Daeng Mangkona (bergelar Pua Ado) hijrah dari tanah Kesultanan Gowa ke Kesultanan Kutai. Mereka hijra ke luar pulau hingga ke Kesultanan Kutai karena mereka tidak mau tunduk dan patuh terhadap Perjanjian Bongaya setelah Kesultanan Gowa kalah akibat diserang oleh pasukan Belanda. Kedatangan orang-orang Bugis Wajo dari Kerajaan Gowa itu diterima dengan baik oleh Sultan Kutai.

Atas kesepakatan dan perjanjian, oleh Raja Kutai rombongan tersebut diberikan lokasi sekitar kampung melantai, suatu daerah dataran rendah yang baik untuk usaha pertanian, perikanan dan perdagangan. Sesuai dengan perjanjian bahwa orang-orang Bugis Wajo harus membantu segala kepentingan Raja Kutai, terutama di dalam menghadapi musuh.

Semua rombongan tersebut memilih daerah sekitar muara Karang Mumus (daerah Selili seberang) tetapi daerah ini menimbulkan kesulitan di dalam pelayaran karena daerah yang berarus putar (berulak) dengan banyak kotoran sungai. Selain itu dengan latar belakang gunung-gunung (Gunung Selili).

Sekitar tahun 1668, Sultan yang dipertuan Kerajaan Kutai memerintahkan Pua Ado bersama pengikutnya yang asal tanah Sulawesi membuka perkampungan di Tanah Rendah. Pembukaan perkampungan ini dimaksud Sultan Kutai, sebagai daerah pertahanan dari serangan bajak laut asal Filipina yang sering melakukan perampokan di berbagai daerah pantai wilayah kerajaan Kutai Kartanegara. Selain itu, Sultan yang dikenal bijaksana ini memang bermaksud memberikan tempat bagi masyarakat Bugis yang mencari suaka ke Kutai akibat peperangan di daerah asal mereka. Perkampungan tersebut oleh Sultan Kutai diberi nama Sama Rendah. Nama ini tentunya bukan asal sebut. Sama Rendah dimaksudkan agar semua penduduk, baik asli maupun pendatang, berderajat sama. Tidak ada perbedaan antara orang Bugis, Kutai, Banjar dan suku lainnya.

Dengan rumah rakit yang berada di atas air, harus sama tinggi antara rumah satu dengan yang lainnya, melambangkan tidak ada perbedaan derajat apakah bangsawan atau tidak, semua "sama" derajatnya dengan lokasi yang berada di sekitar muara sungai yang berulak dan di kiri kanan sungai daratan atau "rendah". Diperkirakan dari istilah inilah lokasi pemukiman baru tersebut dinamakan Samarenda atau lama-kelamaan ejaan Samarinda. Istilah atau nama itu memang sesuai dengan keadaan lahan atau lokasi yang terdiri atas dataran rendah dan daerah persawahan yang subur.

smbr:samarindakota.go.id
  @KotaSamarinda

Kota Samarinda NEWS

Diberdayakan oleh Blogger.